P Enjang : Anggia tolong draft hari ini serahkan ke saya, sekitar jam 12an lah.Me : Waduh belum selesai pak.P Enjang : Ya harus selesai lah..........Me : gak bisa pak, mohon maaf ....
kemudian telpon terputus, saya hanya diam dan tanpa ucapan salam yang biasa saya sampaikan. Bingung bukan kepalang, suasana kebingungan baru bangun tidur, dan kebingungan dengan tuntutan kewajiban yang belum saya selesaikan. Kemudian saya cek isi sms ternyata ada satu sms sebelumnya dari beliau. Isinya tidak kurang seperti ini :
Draft tugas akhir hari ini ke saya kan .........
tak berselang lama, menyusul sms lanjutan dari beliau. Mungkin menyambung perbincangan yang tak tuntas,
Kalau begitu saya tidak akan menanyakan lagi. Tidak sidang juga tidak apa-apa...karena selalu janji terus.......
Kemudian saya balas sms beliau,
Aduh maaf pak. Saya kira tidak jadi setelah bapak tahu bahwa deadline saya adalah tanggal 3 Agustus. Mohon maaf pak.
Kemudian datang sms-sms selanjutnya dari beliau,
Iya makanya sekarang draft nya harus beres. Karena saya sering pergi ke luar di bulan2 ini. Terserah saja, sidang mau enggak. Padahal tugas akhirnya sudah cukup dan ada hasilnya. Sedikit disiplin .......Saya juga malu diperingati terus oleh dekan tentang batas studi anda berkali-kali. Dikiranya saya ikut andil dalam mengerjakan tugas akhir anda. Makanya terserah saja mau sidang mau enggak. Saya tidak akan menanyakan nya lagi ........
Rasa bingung hilang berganti rasa sedih. Sedih sudah mengecewakan seseorang yang sangat percaya kepada saya. Sedih karena mengecewakan salah seorang yang saya kagumi. Walaupun mendadak, saya sadari bahwa beliau layak menanyakan pekerjaan saya. Sudah 2 tahun saya meminta beliau menjadi dosen pembimbing saya, dan pekerjaan belum selesai.
Kira-kira 2 tahun lalu, saya iri melihat teman-teman yang sangat bersemangat mengerjakan tugas akhirnya. Saya pun berjanji, di tahun itu saya harus sudah terlibat di proyek tugas akhir. Mulailah mencari dosen yang "pas" untuk membimbing tugas akhir saya. Pertama kali saya kenal sesosok Pak Enjang Jaenal Mustopa di kelas Fisika Matematika (Fismat). Masuk di kelas Fismat penuh dengan gurauan beliau,cocok dengan saya yang suka bercanda, bawaannya ringan dan santai. Tapi struktur beliau menjelaskan pelajaran sangat baik, walaupun cenderung textual. Kemudian suatu hari saya diminta beliau menemani dalam perjalanan ke SMA 1 Karawang, kebetulan beliau tahu bahwa saya dan beliau adalah satu almamater SMA. Dalam kesempatan itu, saya berkunjung juga ke rumah orang tua nya di Cikampek. Ternyata sangat sederhana, pak enjang anak bapak yang seorang guru SD. Orang pertama di daerah itu yang masuk ITB. Malahan bisa menjadi dosen dan bisa sekolah di Jepang. Layaknya orang tua, si bapak bercerita ini itu mengenai pak enjang. Sekarang saya juga tidak heran dengan pak enjang yang rajin shalat dan mengajar ngaji di daerah rumahnya. Si bapak boleh dianggap ustadz di daerah itu, punya mesjid yang mereka bangun di halaman rumahnya yang jauh lebih luas dari tempat tinggal dia. Bahkan di tahun 2010 saya dengar mesjid itu direnovasi supaya lebih nyaman dan megah. Tapi rumah mereka tidak berubah sedikitpun. Tentu perkiraan saya tidak jauh dari campur tangan pak enjang yang sudah dianggap mapan di sana. Mungkin juga dari sumbangan yang lain.
Sosok sederhana pak enjang, bukan hanya cerita di atas. Ketika ada yang bertanya kenapa pak enjang cepat pulang dari Jepang. Beliau hanya menjawab bahwa beliau kasian pada negara yang menyekolahkannya, saya harus cepat-cepat mengabdi. Kalau dibandingkan dari sisi materi dengan dosen-dosen yang lain, mungkin beliaulah dosen yang sederhana itu. Mobil dan rumahnya mungkin cuman hasil beliau mengajar di ITB dan STT Telkom. Padahal bidang yang beliau geluti bisa untuk mencari duit berlebih. Tiap kali beliau kecewa dengan keleletan saya beliau suka berkata "kamu itu pinter dari yang lain, saya akui kamu cepet tanggap dan ngerti, cuman sayang entah males entah apa". Kamu tahu, kata-kata itu malah memotivasi dan membuat semangat saya yang justru terbiasa dengan kalimat negatif dosen lain disamping saya yang memang pemalas akut. Kata-kata itu justru membuat saya ingin membuktikan diri dan membuat bangga beliau. Mengambil topik tugas akhir yang berat yang membebani masa kuliah dan sangat berlebihan bahkan untuk seorang anak tingkat sarjana. Tapi justru tugas akhir itu yang ingin saya pilih.
Saya akui, di luar kelas, komunikasi saya dengan pak enjang sangat susah berjalan lancar. Selain saya yang kabur-kaburan. Gaya komunikasi verbal pak enjang kurang baik, kadang tidak bisa menjelaskan hal sepele yang harusnya sederhana. Emosi beliau yang tidak bisa marah justru malah tidak bisa ditebak. Mempersulit orang untuk mensituasikan pembicaraan. Tapi semua itu tidak membuat kekurangan untuk saya mengagumi beliau.
Terima kasih pak untuk segala kesulitan yang bapak hadapi dalam membimbing tugas akhir saya. :D